Wanita dan Era Bisnis Digital

Sembilan Ide Bisnis yang Cocok untuk Start Up Tahun 2019
October 22, 2019
UKM Perlu Belajar dari Kegagalan Teknologi Start-Up Dunia
October 22, 2019

Sama halnya dengan bisnis tradisional, bisnis digital startup memberi keleluasaan lebih pada wanita untuk mengatur waktu bekerja, karena bisa dikelola secara online. Di negara yang rawan konflik seperti Afghanistan dan Pakistan, digital startup bahkan menjadi pilihan profesi baru yang menawarkan keamanan dalam bekerja dibandingkan profesi tradisional lainnya.

Menurut laporan Bank Dunia (2015) tentang perkembangan ekonomi digital, salah satu tantangan terbesar bisnis digital startup untuk wanita adalah akses pada internet dan pendidikan tentang dunia digital. Kurangnya keterampilan praktis tentang teknologi informasi menjadi hambatan umum bagi wanita untuk berkembang di sektor ini dan situasi ini hampir merata di negara-negara berkembang. Di negara maju seperti Amerika juga hanya memiliki 33% wanita wirausaha digital, sedangkan Eropa hanya mencatat angka 19% dari total wirausaha digital.

Dalam buku Creativity to Commerce (Arief Yahya, 2014), pada tahun 2012 tercatat ada 303 digital company (DiCo) di Indonesia yang menjadi penggerak industri kreatif digital nasional yang sebarannya masih didominasi di Pulau Jawa. Hingga saat ini, industri game dan perangkat lunak masih menjadi pemimpin pertumbuhan industri kreatif digital Indonesia. Selain itu, Indonesia juga menjadi pasar yang sangat potensial bagi konten dan aplikasi lokal, terutama yang menggunakan platform media sosial.

Di tengah pertumbuhan bisnis digital startup, beberapa nama wanita wirausaha yang menonjol dan berhasil meraih pendanaan dari investor menunjukkan kiprah wanita di ranah digital startup. Sebut saja Diajeng Lestari dengan HijUp yang mendapatkan dana dari Fenox Venture Capital, Skystar Capital dan 500 StartUps, Veronika Linardi, pendiri Qerja dan CEO Jobs.id yang menarik investasi dari SB ISAT Fund, joint venture SoftBank dan Indosat, serta Cynthia Tenggara (BerryKitchen), layanan antar katering yang mendapatkan pendanaan dari ANGIN dan East Ventures. Ada juga duet Claudia Wijaya dan Yenti Elizabeth dengan toko online fashion (Berrybenka) yang menarik perhatian East Ventures dan Gree Ventures untuk menanamkan dana.

Sekilas pandang, memang tampaknya wanita lebih banyak memegang posisi yang lebih membutuhkan soft skill di bisnis digital startup, seperti pemasaran dan community engagement. Sementara pekerjaan teknis seperti coding dan desain UX lebih banyak ditangani pria.

Namun, beberapa tahun terakhir, justru makin banyak venture capital dan angel investor yang memfokuskan investasi untuk para wanita. Tahun 2013, Sally Krawcheck, mantan kepala lembaga keuangan Merryl Linch beralih menjadi wanita wirausaha digital dengan mengambil alih 85 Broads dari mantan eksekutif Goldman Sachs, Janet Hanson, sebuah organisasi jejaring 30.000 wanita profesional, dan mengganti namanya menjadi Ellevate Network.

Bisnis organisasi ini bertambah dengan memiliki skema investasi untuk perusahaan yang memberdayakan wanita. Menurut Sally, sudah saatnya dunia bisnis memberi perhatian pada kesenjangan gender yang jarang dilirik: investasi. Ini saatnya memberikan pengalaman investasi yang khusus disediakan dari dan untuk wanita.

“Wanita lebih fokus pada klien ketimbang pria. Apalagi saat ini generasi millennial makin mengarah pada pilihan karier yang memiliki dampak, tidak hanya pada kehidupan profesional, tapi juga kehidupan pribadi. Bukan sekadar mencari nafkah, tapi juga ingin memberi dampak positif bagi lingkungannya,” tegas Sally, seperti yang dilansir oleh Fast Company.

Melalui Ellevate, ia berusaha mengombinasikan kedua hal tersebut. Sebuah lembaga pemberi dana investasi yang berfokus pada perusahaan yang berfokus pada wanita dan dipimpin oleh wanita, juga menargetkan wanita untuk menjadi investor.
“Produk dengan target market wanita juga bisa menjadi daya tarik bagi investor,” kata Tina Sharkey, CEO Sherpa Foundry, San Francisco. Menurut wanita pendiri iVillage dan pernah menjadi presiden BabyCenter ini, konsumen wanita terbukti menggerakkan lebih dari 85% keputusan pembelian di pasar.

Upaya untuk mendorong wanita terjun ke bisnis digital tampak dari inisiatif pebisnis dan komunitas startup di dunia. Di Indonesia, ada inisiatif Girls in Tech, pertemuan rutin tiga bulanan komunitas wanita yang bergerak di bidang teknologi informasi. Inisiatif lainnya adalah Startup Weekend yang muncul dari Hamburg. Startup Weekend merupakan gerakan global yang mendukung para wirausaha untuk belajar dasar-dasar mendirikan bisnis digital startup. Gerakan ini telah mengadakan lebih dari 1.500 acara di sekitar 700 negara di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan terbuka untuk calon wirausaha digital, baik wanita maupun pria.

April 2015 lalu, Startup Weekend meluncurkan kampanye yang berfokus pada wanita wirausaha lewat Startup Weekend Women Hamburg. Pada umumnya, sebagian besar acara ini memiliki rasio peserta pria dan wanita sebesar 70:30. Dengan fokus yang baru, komunitas ini ingin meningkatkan jumlah peserta wanita, tanpa lantas menutup pintu untuk peserta pria. Data terakhir Hamburg Startups Monitor menunjukkan, ada 311 pendiri digital startup pria, dan 43 pendiri wanita. Hanya 20% wanita yang memimpin dari total startup yang ada. (f)

Sumber : https://www.wanitawirausaha.com/article/kewirausahaan/wanita-dan-era-bisnis-digital-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *