UKM Perlu Belajar dari Kegagalan Teknologi Start-Up Dunia

Wanita dan Era Bisnis Digital
October 22, 2019
HD Virtual Server Debian 7.8.0
October 28, 2019

Jika diibaratkan sebagai siklus kehidupan, dunia bisnis rintisan atau start up di Indonesia saat ini sedang masa puber alias sedang seksi-seksinya. Pertumbuhannya berlangsung sangat cepat, para pelakunya pun selalu memiliki dorongan untuk mempelajari banyak hal serta berusaha mewujudkannya dengan cepat. Pendek kata, gairah kewirausahaan sedang memuncak. Namun, di tengah masa puber ini, survei yang dilansir Forbes cukup membuat patah hati: 9 dari 10 start up di dunia, tak terkecuali di Indonesia, ternyata mengalami kegagalan.

Semangat yang Menular
Gejolak start up di negara maju, seperti di Silicon Valley, Amerika Serikat, sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1995. Saat itu, internet mulai bebas digunakan untuk berbagai kepentingan komersial. Bukan cuma merek-merek beken seperti Amazon.com, e-Bay, Craiglist, Facebook, Google, dan NetFlix yang turut memperkuat posisi lembah digital itu sebagai ‘kiblat’ start up dunia, tetapi juga gaya hidup dan etos kerja mereka yang mendobrak tradisi perusahaan-perusahaan konvensional.

Semangat kewirausahaan ini kemudian menular ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. Bahkan, menurut riset terbaru Google dan Temasek yang bertema e-conomy SEA: Unlocking the $200 billion opportunity in Southeast Asia, Indonesia memiliki 2.033 start up. Dari sekitar 7.000 start up di Asia Tenggara, Indonesia menduduki posisi pertama. Angka tersebut sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Apalagi, saat ini start up di Indonesia juga didukung oleh perusahaan pemodal ventura dan berbagai program untuk menciptakan ekosistem bisnis yang mendukung.

Dua di antaranya, Gerakan Nasional 1.000 Start up Digital, hasil kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informatika RI dan Kibar Kreasi Indonesia, serta Bekraf for Pre-Start up (BEK-UP), yang merupakan hasil kerja sama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) dan Digital Innovation Lounge (DILo) milik Telkom.

“Karena tujuannya membangun ekosistem start up, program ini akan memperbaiki dan menyelaraskan dari hulu hingga ke hilir, dari SDM, valuasi, hingga konsumsi masyarakat,” ujar Hari Sungkari, Deputi Bidang Infrastruktur Bekraf.

Bermodal semangat kewirausahaan generasi muda, keragaman budaya yang melahirkan berbagai isu sosial, populasi yang tinggi, dan dukungan pemerintah, Indonesia disebut-sebut memiliki potensi untuk mengembangkan start up menjadi salah satu penggerak ekonomi.

Namun, di antara keriuhan itu, Bullitt Sesariza, Kepala Bagian Akademik MIKTI, yang menyusun kurikulum pendidikan BEK-UP, mengingatkan agar para pelaku start up tidak gegabah dalam menjalankan bisnis supaya tidak bernasib seperti start up internet di Silicon Valley saat masa dot-com bubble, yaitu masa kejayaan start up internet di Silicon Valley. Masa itu kemudian berakhir dengan banyak perusahaan gulung tikar karena spekulasi saham oleh individu dan pemodal ventura yang lebih percaya pada kemajuan teknologi, sehingga melupakan indikator bisnis tradisional.

Bullitt menambahkan, start up saat ini memang booming sekali di Indonesia, tapi founder dan pelaku start up harus ingat bahwa industri digital di Indonesia belum seperti di Amerika Serikat yang sudah lebih matang. Perusahaan besar sudah lebih siap untuk mengakuisisi produk-produk buatan start up yang bagus untuk portfolio mereka.

Google contohnya, yang membeli lebih dari 100 perusahaan, termasuk perusahaan start up pembuat aplikasi dan software. Begitu juga Microsoft yang mengakuisi Metanautix, start up yang fokus pada big data, dan Genee, start up yang fokus pada pemgembangan artificial intelligent.

“Di Indonesia, saya lihat belum seperti itu karena perusahaan teknologi besar di sini juga masih lebih banyak yang hanya perwakilan dari luar negeri,” ujar pria yang juga CEO dari perusahaan pengembang game lokal, Logika Interaktif, ini.

Ubah Pola Pikir
Populasi pengguna internet di Indonesia yang terus meningkat kerap dijadikan parameter untuk melihat potensi pasar. Bayangkan saja, menurut riset Google dan Temasek, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia mencapai 19 persen per tahun dan diproyeksikan mencapai 215 juta sebelum tahun 2020.

Tentu saja kondisi itu merupakan salah satu hal yang menguntungkan start up di Indonesia. Namun, bukan berarti start up di Indonesia bisa membawa keberhasilan Silicon Valley ke Indonesia. Menurut Karen Kamal, Manager of Accelerator Program perusahaan pemodal ventura, Kejora Ventures, populasi pengguna internet tidak menjamin keberhasilan sebuah start up. Sebab, masih banyak kendala lain yang harus diatasi.

“Hingga saat ini, tidak sedikit start up di dunia yang gagal karena tidak mampu mengatur keuangan atau modal sehingga bangkrut, tidak cukup menghasilkan uang untuk biaya operasional berikutnya, kurang baik mengatur tim, dan produknya tidak diterima baik oleh pasar,” papar Karen.

Seperti Dazo, start up yang berfokus pada aplikasi pemesanan makanan secara online di India. Ide brilian mereka ternyata tidak sesuai dengan kondisi industri kuliner India saat itu. Khususnya dalam hal menjaga kualitas makanan dan efisiensi pengantaran makanan yang bergantung pada kinerja rekanan restoran. Dazo tidak memiliki kendali atas dua hal yang justru menjadi perhatian utama konsumennya.

Bisnis yang didirikan oleh mantan product head perusahaan tiket bus ternama India yang juga alumnus Indian School of Business, Shashank Kumar Singhal dan Monica Rastogi, itu didukung oleh investasi besar dari Managing Director Google India dan Country Manager Amazon India. Sayangnya, perusahaan harus gulung tikar hanya dalam waktu setahun.

Pengalaman serupa dialami Aditya Herlambang, pendiri start up lokal Shopious, sejenis social commerce, yang baru saja menutup usahanya pada April 2016. Perusahaan yang ia bangun bersama Billy Halim pada tahun 2013 itu tutup bukan karena kehabisan modal atau minim investor, bukan juga karena teknologinya tidak mumpuni. “Kalau di kasus Shopious, kami tutup karena ketidaksiapan model bisnis, penjual, dan pembeli,” ungkap Aditya.

Meski bisnis e-commerce diramalkan sebagai salah satu jenis bisnis yang akan terus berkembang di Indonesia, Aditya justru melihat penjual barang di Indonesia belum siap jika harus membayar untuk mendokumentasikan barang mereka di situs agregator, seperti yang sudah berjalan di Amerika Serikat. Sehingga, sampai saat ini rata-rata situs ­e-commerce di Indonesia masih menerapkan sistem gratis. Penjual juga kebanyakan berstatus reseller sehingga mereka dan situs agregator kurang memiliki kendali atas kualitas, kuantitas, dan logistik barang.

Sementara itu, para pembeli online shop juga lebih tertarik dengan harga supermurah dan diskon besar. Diskon besar biasanya hanya bisa dilakukan oleh start up berkantong tebal alisan mendapat suntikan dana ‘gila-gilaan’ oleh investor. Tentu saja, hal itu akan sulit disaingi oleh start up lain yang berkantong lebih tipis.

Jika kondisi ini terus berlanjut, menurut Aditya, akan berdampak kurang baik terhadap ekosistem start up di Indonesia. Sebab, perusahaan start up saat ini hanya berlomba-lomba menjadi nomor 1 atau market leader dengan perang harga, bukannya menciptakan bisnis yang berkelanjutan. “Valuasi perusahaan terus bertambah, tapi tidak diimbangi dengan pendapatan start up itu sendiri, jadi tidak profitable. Padahal, kebanyakan start up di Indonesia masih mengandalkan subsidi atau investasi,” papar Aditya.

Tren perang harga lewat diskon besar ini juga membuat Andriansyah, Executive Director DILo-Telkom, khawatir. “Strategi itu hanya membuat start up, khususnya yang di bidang e-commerce tetap booming, tetapi tidak stabil sebagai bisnis,” ujar Andriansyah. Dalam industri digital yang selalu memiliki inovasi baru, stabilitas bisnis merupakan hal penting.

Selain perang harga, kesesuaian produk dengan kondisi kebutuhan pasar juga harus diperhitungkan. Di atas kertas, ide Shopious boleh jadi terlihat sempurna. Tapi, ternyata pasar menyatakan sebaliknya. Seperti yang juga terjadi pada start up Quirky di Silicon Valley. Perusahaan platform penemuan itu memungkinkan seseorang untuk menyampaikan ide tentang produk yang mereka sukai, kemudian Quirky akan mewujudkannya. Meski menarik perhatian banyak orang dan investor, ide itu ternyata tidak mampu menggaet pembeli, apalagi menghasilkan profit. Contoh, saat Quirky menghabiskan biaya 400.000 dolar AS (sekitar Rp5.2 miliar) untuk memproduksi bluetooth speaker yang kemudian hanya laku 28 unit.

Produk start up yang baik, menurut Andriansyah, bukan hanya harus sesuai selera masyarakat, tetapi juga harus bisa menjadi solusi bagi isu-isu di masyarakat. “Pelaku start up memang harus idealis dan visioner dalam menciptakan produk, tetapi jangan sampai pakai kacamata kuda sehingga tidak mau melihat kondisi masyarakat sesungguhnya. Pola pikir itu harus diubah,” ujarnya.

Kolaborasi Ilmu
Membangun ekosistem start up dan stabilitas bisnis memang tidak instan seperti memproduksi buah karbit. Bahkan, Silicon Valley sudah memulai perjalanannya sejak tahun 1938, saat William Hewlett dan David Packard memproduksi audio oscillator di garasi mereka. Untuk itu, para founder dan pelaku start up harus menyiapkan diri untuk menjalankan bisnis yang berkelanjutan dan mandiri.

“Dengan adanya program yang juga didukung oleh pemerintah dan banyak pihak, kami berharap bisa menciptakan pool of talent dengan kemampuan wirausaha yang baik dan tahan banting. Ini juga menjadi sarana untuk membangun jejaring bisnis bagi pemula,” ujar Hari. Hal itu, menurut Bullitt, bisa diwujudkan jika para pelaku start up tidak hanya membangun bisnis berdasarkan passion dan ide, tetapi juga memiliki visi, kemampuan teknis, kemampuan berkolaborasi, juga kemauan untuk terus-menerus menyempurnakan produk.

Meski sering terlihat sebagai sekadar deretan kata, kesamaan visi dan misi antara founder dan tim ternyata memiliki makna penting dalam membangun start up. “Membangun bisnis adalah aktivitas yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Visi dan misi yang sejalan dapat menjadi roadmap kita dan menguatkan mental saat menghadapi masalah,” ujar Aditya.

Founder dan tim juga harus memiliki kemampuan teknis yang baik untuk mewujudkan produk mereka. Jika tidak memiliki kemampuan itu, pemilik ide cenderung harus menugaskan orang lain untuk mewujudkannya. “Hal itu tentu sangat tidak praktis karena memakan waktu. Belum tentu si technician bisa menangkap utuh ide dari founder. Selain itu, juga memakan biaya lebih banyak,” ujar Bullitt.

Pada saat seperti itulah, Bullitt menekankan, kemampuan untuk berkolaborasi menjadi sangat penting. Sebab, jarang sekali ada orang yang bisa menguasai banyak hal dalam satu waktu. “Idealnya, sebuah start up sebaiknya dijalankan atas kolaborasi antara seseorang yang menguasai konsep produk, teknis atau teknologi, dan manajemen bisnis untuk membangun jejaring,” papar Bullitt. Dengan modal itu, maka sebuah start up biasanya akan lebih mudah membangun produk dan merek mereka.

Selain itu, mereka juga harus jeli memperhatikan faktor eksternal, yakni kesiapan pasar. “Jangan sampai kita membuat produk yang sangat canggih, tapi malah enggak bisa digunakan oleh masyarakat,” ujar Andriansyah. Waktu dan strategi yang dibutuhkan untuk mengedukasi pasar juga harus diperhitungkan agar produk bisa meluncur pada waktu yang tepat.

Meski saat ini online shopping sudah merupakan hal biasa, penggunaan rekening bersama belum tentu dianggap mudah oleh konsumen. “Masih banyak yang lebih nyaman dengan sistem transfer langsung ke penjual,” tambah Andriansyah.

Yang paling penting, Bullitt menekankan, para founder dan pelaku start up harus menghilangkan pemikiran bahwa start up bisa terus bergantung pada investor. Sebaliknya, start up yang ideal harus terus dikembangkan sehingga menjadi sebuah bisnis yang menghasilkan profit, tanpa kehilangan jati diri dan kualitas produk.

Backplane, start up jenis social network builder milik Lady Gaga, bisa menjadi salah satu contoh. Ketenaran sang penyanyi yang bersanding dengan kekuatan investasi dari Sequoia, Google Ventures, SV Angel, dan lainnya sebanyak 12,1 juta dolar AS (sekitar Rp157.862.650.000) tak cukup membuatnya bertahan. Setelah berjalan 3 tahun, Backplane gagal mengembangkan kualitas produknya.

Bagaimanapun, kegagalan adalah bagian penting dari keberhasilan sebuah bisnis. Kuncinya, jangan menyerah ketika jatuh, bahkan setelah tertimpa tangga. Bayangkan saja, jika Mark Zuckerberg menyerah saat Harvard menolak idenya untuk membuat sistem direktori mahasiswa, mungkin saja saat ini dunia tidak akan mengenal Facebook.(f)

Sumber : https://www.wanitawirausaha.com/article/ilmu-bisnis-ukm1/ukm-juga-bisa-belajar-dari-kegagalan-start-up-teknologi-dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *